CINTA BUKAN BERARTI JODOH

Namaku Nur Layla, namun mereka selalu memangilku Layla. Kata mereka aku cantik, tapi aku tak pernah tahu darimana sisi kecantikanku. Karena yang aku tahu dari diriku, aku hanyalah gadis malang yang selalu berwajah sendu. Gadis malang yang merindukan kasih sayang dari Ayah dan Bundanya.

                Dan ini, adalah kisahku :

            Aku duduk termenung di kursi kayu yang berada di ujung kamarku. Pandanganku nanar menatap ke arah luar sana. Dari balik jendela, aku melihat nak kecil itu saling berkejar-kejaran. Ah, hatiku miris melihatnya. Dan aku iri pada mereka yang bisa melewati masa kecilnya dengan riang gembira.

            Andai saja aku mampu mengulang waktu, aku ingin sekali mengulang masa kecilku, kembali kepada masa lalu. Namun aku sadar, semua itu hanyalah khayalan bodoh yang hanya membuatku semakin terpuruk dalam kekecewaan dan penyesalan.

            Kehilangan masa kecil bersama teman dan keluarga. Menghabiskan waktu di Pondok pesantren yang asing dan jauh dari keluarga. Bahkan, aku hidup jauh dari kata layak.

Waktu itu usiaku baru delapan tahun, Ayah dan Bunda sudah mengirimku ke Pondok. Kata mereka, agar aku bisa belajar agama sedari usia dini. Padahal, mereka mampu mengajariku tanpa mereka mengirimku ke Pondok.

Awalnya, mereka memang rajin mengunjungiku setiap bulannya. Memberiku pakaian baru dan uang saku yang lumayan banyak bila dibandingkan dengan teman-temanku. Tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan saja, karena lama kelamaan mereka mungkin telah melupakanku. Mereka tak lagi mengunjungiku, bahkan lebaran datangpun mereka tak pernah menjemputku.

Ah, aku malas mengungkit masa lalu itu. Sepertinya mereka telah melupakanku sebagai anak.

Kini, usiaku telah mengijak tahun ke-tujuh belas sedari aku dilahirkan. Aku pikir, mereka akan menjemputku. Namun nyatanya? Sama sekali tak ada kabar dari mereka. Aku kesepian. Hidupku tak lebih parah dari si yatim yang tak punya orang tua.

“Kau kenapa, Layla?” tanya seseorang yang membuyarkan lamunanku. Aku hafal betul denga suaranya. Pemilik suara itu adalah Kahlil. Kahlil adalah salah satu santri di sini. Aku cukup mengenalnya, karena dia adalah anak dari Kyai Basofi, sahabat Kyai Anom-pemilik pesantren ini.

Aku tersentak. Astagfirulloh, di sini hanya ada dan dia? Pasti ada setan yang tengah bersama kami. Gumanku lirih.

Aku secepatnya mengusap air mata yang semapt mengalir ke wajahku. “Aku tidak apa-apa,” ucapku lalu buru-buru pergi dari ruangan itu. Aku tak mau ada fitnah antara aku dan Kahlil. Aku tak mau itu terjadi.

“Layla, tunggu!” teriaknya memanggilku dan menghentikan langkahku.

Aku memutar tubuh, menhadap ke arahnya dengan wajah tertunduk. Aku tak mau memandang wajah yang pernah menggoyahkan naruniku itu. Ketampanannya yang sedikit demi sedikit menggerogoti keimananku hingga aku menduakan-Nya. Dan aku tak mau mengulang rasa itu kembali.

“Ada apa, Kang?” tanyaku padanya.

Kahlil berjalan menuju aku berdiri. Mendekat ke arahku dan membuat dadaku bergetar hebat. Keringat dingin mengucur dari dalam tubuh yang terlilit gamis berwarna hijau. Dentum jantung bergetar merdu bagai alunan nada yang menggoyahkan gendang telinga. Dan aku semakin tak sanggup menerpa rasa ini agar enyah dari perasaanku. Semua ini terlau berat untukku.

Mulutku tiada henti melantunka istigfar, namun tetap saja, si tampan itu bisa saja membuatku tergoda.

“Layla, maafkan aku, Layla,” ucapnya dengan bergetar.

“Maaf kenapa, Kang?” tanyaku dan memberanikan diri menatapnya. Tatapan kami pun saling beradu. Mata kami sejurus dalam satu pandangan. Dan aku tahu, ini adalah zina mata.

Aku semakin merasa kesulitan bernafas karena kegugupanku. Dia yang begitu dekat denganku telah meruntuhkan persendian imanku dan membuatku tergoda pada lubang neraka.

“Aku tahu ini bukanlah hal yang pantas untuk seorang santri, Layla. Namun aku juga sadar, aku hanya insan biasa yang tak mampu membendung rasa ini. Sebagai manusia normal, aku mempunyai  hati dan nurani. Begitu juga dengan yang namanya cinta,” ucap Kahlil yang membuatku terkejut.

Aku hanya mampu tertunduk dengan diamku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bahagia mendengar ucapan yang Kahlil lontarkan, namun aku juga tahu kalau semua itu adalah dosa. Rasa ini adalah sesuatu yang salah.

“Aku benar-benar telah jatuh cinta padamu, Layla,” imbuhnya yang membuat hatiku semakin tak menentu.

Aku manarik nafas panjang. Sejenak suasana menjadi hening. Aku terdiam.

“Kau tahu tentang aqidah, Kang. Kenapa kau berbicara seperti itu padaku?” tanyaku dengan hati yang sebenarnya tengah berbunga-bunga.

“Layla, berulang aku melawannya. Namun aku tak sanggup mengenyahkannya. Bukankah cinta itu anugerah, Layla?”

“Cinta memang anugerah, Kang. Tapi bagi mereka yang sudah halal,” pekikku dengan nada sedikit keras.

Kami terdiam.

“Sudahlah, Kang. Aku cukup tahu siapa aku. Sebaiknya, Akang lupakan saja perasaan Akang,” ucapku lalu bergegas pergi dan enggan menghiraukan panggilannya.

***

Dedaunan bergoyang merdu melantunkan embun-embun yang basah karena hujan semalam. Mereka tersenyum menatapku bagaikan alunan suara yang tengah melafazkan doa untukku. Aku tersenyum menatapnya.

“Layla, kamu disuruh menghadap Kyai Anom,” ucap Zahra-teman sekamarku.

Aku terdiam. Kyai Anom memanggiku? Kenapa? Bukan hal yang biasanya.

“Memangnya ada apa, Zahra?” tanyaku tak mengerti.

Zahra hanya menggeleng pelan. “Aku tak tahu, Lay. Sebaiknya kau secepatnya ke menemui Beliau. Tak baik membiarkannya menunggu,” jawab Zahra setengah menasehati.

“Baiklah, Zahra. Doakan aku, semoga tak terjadi apa-apa,” pintaku mengiba dan dijawab Zahra dengan sebuah senyuman dan anggukan.

Aku segera berjalan menuju ruangan Kyai Anom. “Assalamualaikum,” ucapku.

“Walaikum salam,” balasnya.

Aku segera masuk ke ruangan Kyai Anom. Betapa terkejutnya aku, di dalam ruangan itu tengah duduk Kahlil. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku merasakan tidak enak seperti ini?

“Duduklah, Layla,” suruh Kyai Anom yang segera aku laksanakan.

Hatiku semakin bergetar kencang dan tak menentu.

“Langsung saja saya akan berbicara pada pokok permasalahannya,” ucap Kyai Anom yang semakin membuatku bergetar tak menentu. “Seperti yang kalian tahu, di Pondok ini punya aturan. Seperti halnya aturan kalau santri putri dan santri putra dilarangan berdua-duaan, karena itu akan menimbulkan fitnah. Kalian cukup tahu dengan sanksi-sanksinya, tapi kenapa kalian melanggar semua itu?” tambah Kyai Anom yang membuatku ketakutan.

Aku sadar, sesuatu akan terjadi padaku.

Aku tertunduk pilu. Aku sama sekali tak tahu siapa yang melaporkan aku dan Kahlili ke Kyai Anom. Tapi aku cukup sadar, itu memang sudah menjadi peraturan, bukan hanya dalam pesantren, namun agamaku juga melarang kalau seorang lelaki dan seorang wanita yang bukan muhrim tengah berdua-duaan, maka pihak ketiganya adalah setan.

Lama, aku dan Kahlil disidang oleh Pak Kyai. Hingga akhirnya aku harus menerima keputusan pahit ini.

***

Kahlil menemuiku di seberang jalan, disaat aku menapakkan kaki mennggalkan pondok yang sedah bertahun-tahun aku huni. Dan sekarang, aku sama sekali tak tahu harus menapakkan kaki ke mana. Bahkan, aku lupa arah jalan pulang.

“Layla, maafkan aku!” ucapnya mengiba.

Aku terdiam dan menunduk. Ada kesal dan sesal yang menghampiri. Tapi aku cukup sadar, ini sudah mejadi takdir-Nya. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah untukku mengukir kebebaanku yang telah lama terenggut. Mungkin ini adalah awal yang indah buatku menyapa dunia yang baru. Setelah aku cukup paham dengan agama, mungkin Allah telah mempercayaiku terlepas dari pondok itu.

“Sudahlah, semua sudah terjadi,” ucapku dengan tetap berusaha menenangkan hati.

“Tapi semua gara-gara aku, Layla!”

“Bukan! Ini sudah takdir!”

Suasana kembali hening. “Layla, maukah kau menungguku?” tanya Kahlili tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” jawabku balas bertanya.

Kahlil terdiam untuk sejenak. Dia menatapku nanar, membuatku tersipu malu dan enggan untuk menatapnya kembali. Mata elang Kahlil, benar-benar telah meruntuhkan keimananku.

“Tunggu aku kembali, Layla. Tunggu aku menuntut ilmu ke Mesir. Sekembalinya aku dari sana, aku akan meminangmu, Layla. Menjadikanmu halal bagiku,” ucapnya yang membuatku tertegun.

Aku menarik nafas panjang.

“Jangan suka beranji, Kang. Aku tak suka. Lebih baik kau buktikan niatmu itu, jangan sekadar janji.” Jawabku datar.

Lama kami berbincang. Begitu juga dengan Kahlil yang terlalu sibuk mengumbar janji, membuatku sedikit jengah. Dia anak Kyai, pemuda yang besar di lingkungan agama yang kuat, namun kenapa Kahlil seperti tak memahami hukum-hukumnya?

Terkadang aku menjadi ragu olehnya, namun ketampanannya selalu mampu meluluhkan hatiku. Seperti ada kharisma yang menyoroti keimananku terhadapNya.

Ya Allah, aku telah berdosa.

***

Sunyi dan sepi, aku menapaki hari-hariku di lingkungan kampus yang jauh berbeda dengan pondok yang telah membesrkanku. Menyendiri dan menyendiri, itu adalah kebiasaanku. Dan tak jarang, aku mendengar kata mereka yang selalu menganggapku aneh. Padahal, aku merasa kalau aku biasa saja. Aku sama seperti mereka. Aku punya hati dan perasaan, dan juga otak untuk berfikir.

Ah, tapi aku tak peduli dengan semua itu. Aku cukupkan saja untuk berfokus pada kuliahku dan menanti Kahlil kembali. Ya, aku semakin hari semakin siap untuk bertemu dengan hari itu. Dan aku berharap, memang benar-benar ada hari untuk aku dan Kahlil bersatu dalam satu ikatan suci.

5 tahun pun berlalu….

Dan betapa bahagianya aku ketika aku mendengar kabar kalau Kahlil telah kembali ke Indonesia. Katanya, dia sampai di Indonesia sudah minggu lalu. Namun aneh, sampai sekarang Kahlil belum juga menghubungiku. Aku merasa khawatir, sebenarnya ada apa ini? Pertanyaan itu selalu saja menanungi pikiranku.

Aku selalu mencoba berfikir positif. Mungkin Kahlil sedang sibuk, sehingga dia belum sempat untuk bertemu dengan ku. Dan aku tetap meyakinkan segenap hatiku, aku percaya pada Kahlil. Dan aku yakin, Kahlil tak akan membohongiku, Kahlil pasti akan menemuiku dan menepati janjinya.

Hingga sebulan berlalu. Kahlil sama sekali tak pernah menghubungiku. Hingga aku mendengar kabar burung dari Aisyah-temanku sewaktu di pondok—kalau sebentar lagi Kahlil akan menikah dengan Farah, jodoh pilihan orang tua Kahlil.

Dan yang lebih menyakitiku, Kahlil kembali untuknya. Untuk menikah dengannya.

***

Hari masih terlalu pagi. Di luar, masih terlihat gelap. Mungkin bukan waktu yang pantas untuk seseorang berkunjung bertamu.

Terdengar suara pintu di ketuk. Aku segera menyambar jilbabku dan mengenakannya. Dengan langkah sedikit lebar, aku segera membukakan pintu. Aku terkejut, lelaki yang ada di hadapanku ini adalah lelaki yang membuatku dikeluarkan dari pondok pesantren. Lebih tepatnya, di adalah Kahlil.

“Mau apa kamu ke sini?” tanyaku dengan nadasedikit sinis.

“Assamualaikum, Layla,” Kahlil tidak menjawab pertanyaanku. Dia justeru melontarka salam.

Astagfirulloh, bisa-bisanya aku lupa mengucap salam. Gerutuku dalam hati.

“Walaikumsalam,” akupun menjawab salamnya.

Suasana menjadi hening untuk sejenak. Kami sama sekali tak tahu harus memulai darimana pembicaraan ini. Hatiku terlanjur perih dengan apa yang telah Kahlil goreskan kepadaku.

“Kau tidak memperkenankan aku masuk, Layla?” tanya Kahlil basa-basi.

“Aku tidak ingin ada fitnah di antara kita. Kalau kamu memang benar-benar ada keperluan, kamu tidak perlu basa-basi. Tapi bila memang tidak, silahkan kamu pulang saja!” jawabku setengah mengusir.

Aku pun langsung menutup pintu dan membiarkan Kahlil berdiri di luar. Aku sama sekali tak peduli dengan dia yang berulang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Hatiku terlanjur hancur dengan kediamannya yang telah memberiku harapan palsu. Karena dia aku sampai dikeluarkan dari pondok, karena dia aku rela menolak beberapa pinangan lelaki yang melmarku. Namun baginya itu sama sekali tak berarti. Dia justeru akan menikah dengan wanita lain.

Suasana terdiam untuk sejenak. Saat aku membuka pintu, sosok Kahlil sudah tidak ada. Yang tertinggal hanyalah sepucuk undangan pernikahannya dengan Farah.

***

            Aku tak mau menjadi pengecut. Walau dengan hati yang kacau, aku pun menghadiri pesta pernikahan Kahlil dan Farah. Hatiku pilu, aku cemburu, namun ini adalah takdir-Nya. Tulang rusuk Kahlil bukanlah aku, melainkan adalah Farah. Sepahit apapun kenyataan ini, aku harus mampu menerimanya. Aku yakin, Allah telah merencakan sesuatu yang indah untukku. Allah mungkin telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku.

            Aku menahan agar air mataku tak membuncah. Dengan berat, aku tersenyum. Senyum yang namapk dipaksakan.

            “Assalamualaikum, Layla,” suara seorang lelaki mendekat ke arahku.

            “Walaikumsalam,” jawabku dan menoleh. “Gibran?” mulutku mengucap namanya.

            Lelaki itu menghampiriku. Lelaki yang hampir lima tahun tak aku temaui. Iya, dia adalah Gibran, anak dari Kyai Basofi.

            “Kau apa kabar, Layla?” tanyanya padaku.

            “Alhamdullilah baik, bagaimana dengan kau?” jawabku balas bertanya.

            “Seperti yang kau lihat saat ini, Alhamdullilah baik,” ceritanya.

            Kami pun akhirnya terpaut dalam perbincangan akan pengalaman masing-masing. Pesta pernikahan yang ku pikikr akan menguras air mataku ini, ternyata berganti menjadi perbincangan yang menyenangkan antara aku dan Gibran.

            Dan semenjak saat itu, aku dan Gibran sering sekali berkomunikasi. Entah itu lewat SMS, telepon ataupun dunia maya. Kami juga sering bertemu saat makan siang. Tentunya, kami tak bertemu berdua saja. Aku dan dia selalu mengajak teman, semua karena kami tak ingin ada fitnah di antara kami.

            Hingga malam itu, Gibran mengirim SMS kepadaku. Dia mengutarakan perasaannya padaku.

            Layla, maafkan atas kelancanganku ini. Tapi demi Tuhan, Layla, aku mengagumimu.

            Aku tersenyum nanar. Bayangan luka akan penghianatan Kahlil masih melekat erat dalam ingatanku. Aku tak mau mengulang masa lalu.

            Aku menarik nafas panjang sebelum membalas SMS dari Gibran.

            Gibran, jika kau memang serius terhadapku, maka temuilah kedua orangtuaku. Utarakanlah niat baikmu pada mereka, jangan padaku.

            Dan beberapa hari kemudian, Gibran bersama Kyai Basofi menemui kedua orangtuaku untuk melamarku. Aku merasa lega. Gibran benar-benar serius terhadapku.

            Akhirnya, sebualan kemudian kami menikah. Dan aku merasakan bagaimana rasanya pacaran hanya dengan imamku, Muhammad Gibran Basofi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s