Nulis #Random2015 Hari VIII

CERPEN...

APRIL DI BULAN MEI

By : Witri Prasetyo Aji

            Galang menatap lekat April. Mendengarkan setiap cerita yang keluar dari bibir mungil April. Gadis berparas ayu itu begitu tegar mengahdapi hari-harinya, walau April tak lagi mampu melihat, namun April tetap tersenyum dan tak pernah mengeluh.

April memang cantik, kulitnya putih, pandai dan suka bercerita. Senyum selalu menghiasai wajahnya, namun dia buta. Sedangkan mantan-mantan Galang? Mereka cenderung metroseksual dan selalu menghabiskan waktu untuk shopping, clubing, dan rutinitas menghambur-hamburkan uang. Sementara April? Dia selalu menghabiskan waktu di taman, bercerita tentang cerita rakyat dan didengarkan oleh anak-anak yang tinggal di kompleknya.

“Mari aku bantu,” ucap Galang menawarkan.

“Nggak usah, aku bisa sendiri kok,” tolak April yang tetap berjalan dengan tongkatnya. Meski mata April tak lagi mampu melihat, namun April masih punya insting yang mampu membawanya sampai pada istananya.

Galang berjalan mensejajari April. Mulutnya membisu tak bersuara. Namun April mampu merasakan kehadirannya.

“Kamu mengikuti aku ya?” tanya April dan tetap berjalan tanpa mau menghentikan langkahnya.

Galang enggan menjawabnya. Dia masih pada ritual diamnya dan tetap mengikuti langkah April. “Kalau kamu masih mengikutiku, aku akan berteriak!” ancan April yang merasa tak suka dibuntuti Galang.

“Aku tak mengikutimu, aku juga ingin pulang. Dan kebetulan rumah kita satu arah,” Galang mencoba beralasan.

“Kau bohong!” April seolah tak percaya dengan ucapan Galang.

Dan untuk selanjutnya, April tetap melanjutkan langkahnya. Galang masih mengikutinya. Untuk hari-hari berikutnya pun seperti itu, lewat diam, Galang selalu menjaga April.

Sepertinya, lelaki brandal itu telah luluh pada sosok anggun April. Kebutaan April sama sekali bukan menjadi alasan untuk Galang tidak mencintai April. Justeru karena itu, Galang mampu menjaga April secara lebih.

“Sebenarnya apa maksud kamu selama ini? Jangan kau pikir aku tak tahu kalaukau setiap hari membuntutiku?” ucap April terdengar sinis. Meski April adalah sosok anggun yang begitu ramah, namun gadis ini cukup sadis untuk menghadapi orang asing seperti Galang. Bukannya April ingin bersikap galak, namun April hanya ingin lebih berhati-hati pada orang yang belum dikenalnya.

“Aku hanya ingin mengenalmu, menjagamu, itu saja,” ucap Galang dengan tenang.

“Aku tak butuh itu,” tolak April.

“Tapi aku ingin melakukannya,” Galang masih pada pendiriannya.

April benar-benar kesal akan sikap Galang.

*****

Bulan april telah berlalu, mei telah menyambutnya. Ada sosok perih yang membuat hati April bagai tersayat sebilu. Mei selalu mempunyai cerita lain untuknya.

Galang memberanikan diri untuk menghapus air mata April yang membasahi wajah ayunya. April tersentak dibuatnya.

“Mau apa kau?” tanya April dengan nada sinis.

“Aku hanya tak ingin melihatmu menangis,” jawab Galang yang masih mengusap air mata April yang terus menetes.

April hanya terdiam. Sepertinya dia memang tak terlalu memikirkan sikap gila Galang. Hatinya terlalu berfokus pada luka masa lalu yang telah menghilangkan pandangannya. Pertengkaran hebatnya bersama Galuh–kekasihnya—hingga membuat mereka kecelakaan dan membuat April kehilangan penglihatan serta membuat Galuh tak lagi mampu mengingatnya.

:Aku rindu dia,” ucap April di tengah heningnya dan membuat Galang tak mengerti. Dia? Siapa ‘dia’ itu? Sebegitu hebatnyakah sosok dia? Hingga membuat April yang selalu tersenyum harus meneteskan air mata.

April beranjak dari duduknya. Berjalan entah kemana. Galang berusaha mengejarnya dan memanggil-manggil nama April, namun April tak menghiraukannya.

“Awas, Pril!!!” teriak Galang dari arah taman.

Namun April tetap berjalan dengan jiwa yang hampa. Padahal, dari arah berlawanan, sebuah mobil sedang melaju dengan cepatnta dan “Bruukkkk!” Tubuh April terlempar jauh dengan bersimbah darah.

“Aprriillll!!” teriak Galang sekencang-kencangnya.

Lalu, sang pengemudi mobil keluar dari mobilnya. Betapa kagetnya Galang, ternyata penabak itu adalah Karin-tunangannya.

“Kau membunuhnya!” marah Galang pada Karin.

Karin hanya terdiam. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan, Mengapa Galuh bisa bersama April? Apakah Galuh telah mengingat semuanya??

Karin membalikkan tubuhnya dan memasuki mobilnya, melarikan diri dari kecelakaan. Sementara Galang masih menangis dengan memeluk tubuh April yang tak lagi bernyawa.

Galang benar-benar merasa kehilangan. Ada yang lain dalam diri April, namun Galang tak mampu untuk menjelaskannya. Karena yang Galang tahu, Galang hanya merasa jatuh cinta pada sosok April semenjak pertama kali bertemu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s