gado-gado

KALAU NYARI SUAMI ITU MBOK YANG KAYA… (1)

KALAU NYARI SUAMI ITU MBOK YANG KAYA… (1)

 

“Kalau Ayah kaya, mapan, punya jabatan, punya rumah, punya mobil dari dulu, bukan Mamah yang jadi isteri Ayah.”

 

“Mulai, tho?”

 

“Faktanya emang gitu, kan?”

 

“Aku mending enggak punya apa-apa tapi bisa sama kamu!”

 

“Terus aku diajak hidup susah gitu? Kalau enak bukan sama aku?!”

Si Mamahnya nangis dan Ayahnya langsung meluk. Sambil berbisik, “Aku tuh cinta banget sama kamu, jangan mikir yang aneh-aneh. Yang udah yaudah, Ayah ajah enggak ngagas. Mamah itu segalanya buat Ayah.”

Lebay, melankolis, ala drakor banget kan, yah? Tapi memang itu adalah fakta yang pernah terjadi. Saya enggak bakalan nulis detailnya sesuatu itu, itu hanya cuplikan ajah.

Baca : Karena Menikah Itu (Bukan) Perkara Mudah

Skippppp  ————–

26994060_1408386432617606_5545295494760762355_n

Suamiku bukan orang kaya, dia pria yang belum mapan tapi berani datang meminang

Perempuan itu butuh kepastian. Dia ingin punya masa depan. Pacaran lama-lama, yang ada putus? Apa iya, nanti sebagai perempuan bakalan melamar?

Baca : Karena Jodoh Itu Rahasia Tuhan

Pernah enggak sich kalian mendengar suatu kisah tentang seorang ibu yang menginginkan anaknya berjodoh dengan lelaki tajir melintir tujuh turunan. Kalau enggak kaya yaudah langsung ditolak? Yang kayak begono, masih banyak kok tsayyy…

Si ibu enggak bakalan merestui anaknya menikah kalau si pria enggak kaya, enggak mapan, dan bla… bla…

Menurut kalian gimana? Setuju apa enggak?

Saya sich, NO COMENT. Saya orang yang berprinsip rejeki itu sudah diatur sama Yang Kuasa. Saya tahu kalau hidup itu butuh duit, tapi bukan berarti duit bisa membuat kita merendahkan orang lain, ye kan? Tapi, kalau ada orang tua yang menginginkan anaknya dapat jodoh yang kaya, ya enggak salah juga. Alasannya :

  1. Hidup enggak kecukupan kalau modal tampang cakep dan cinta doang. Keseharian butuh makan, periksa ke dokter, lahiran, beli susu, beli diapers, beli make up dan banyak banget kebutuhan rumah tangga yang harus dicukupi dengan materi

Baca : Karena Cantik Itu Dari Dalam… Dalam Dompet?

  1. Mengangkat derajat.

Dapat jodoh kaya bisa mengangkat derajat keluarga. Bisa jadi loh. seorang suami itu bisa mengangkat derajat si isteri. Percaya enggak percaya, orang kaya itu kajen (terhormat) meskipun ada juga sich yang kaya tapi biasa saja.

Kebanyakan di masyarakat orang kaya itu dihormatin banget, ditakuti juga ada. Yang bahkan apa pendapat si kaya itu lebih diiyain daripada pendapat si miskin.

  1. Orang tua enggak mau kalau kehidupan si anak menderita.

Banyak orang tua yang berfikir kalau kebahagiaan itu diukur dari materi. Yang dapat jodoh kaya hidupnya seolah lebih bahagia dari mereka yang dapat jodoh biasa saja. Argh, belum tentu juga kan? Hidup itu kan sawang sinawang (saling memandang) dan kita enggak tahu apa yang dirasain oleh seseorang. Kaya belum tentu bahagia, miskin juga belum menderita.

Atau bisa juga, dulu kehidupan orang tua susah, terus merawat anaknya agar bahagia, menuruti apa maunya anak. Lantas berfikir kalau anaknya ntar dapat jodoh orang kaya, hidupnya bahagia. Dan sebaliknya, kalau dapat jodoh orang enggak punya terus hidupnya bakalan menderita.

  1. Jadi bahan pujian.

Di dunia ini siapa sich yang enggak mau mendapatkan pujian? Bahkan ada kan ya yang rela pencitraan demi mendapatkan pujian? Pun soal mendapat jodoh kaya.

Saya enggak munafik, di sekeliling saya tuh perbedaan si kaya dan si miskin mencolok banget. Yang dapat jodoh ‘katanya’ anak orang kaya pasti dech dipuji-puji, dibilang beruntung, pasti hidupnya bahagia dst. Terus yang dapat jodoh bukan orang kaya, dikasihani. Ya Tuhan, terkadang saya sampai geleng-geleng kepala loh. Mereka kok sok tahu banget sich?

Sebenarnya banyak banget kok alasan orang tua yang berharap anaknya dapat jodoh kaya. Enggak apa-apa, enggak salah. Apalagi orang tua yang selama ini berjuang demi kebahagiaan anaknya, terus jadi enggak ridho kalau anaknya dapat jodoh enggak kaya karena berfikir enggak bisa bikin anaknya bahagia.

Orang tua mana sih yang kepengen anaknya hidup menderita? Enggak ada kan, ya? Sayapun juga selalu kepengen kalau anak saya hidupnya bahagia, kok.

Tapi, apa kabar mereka para lelaki yang ndlalah nasibnya kurang beruntung? Yang lahir dari keluarga sederhana, hidupnya juga belum mapan, tampang pas-pasan? Enggak dapat jodohnya gitu?

Ngomongin jodoh memang rumit ya, tsayyyy? Apalagi kalau sudah menyangkut materi… #duhhhh

Dan saya sendiri mendapatkan jodoh bukan lelaki kaya. Gimana kehidupan saya?

Seperti yang saya bilang di atas, suami saya bukan anak orang kaya, sewaktu meminang saya dia juga beum mendapatkan pekerjaan mapan. Akan tetapi niat baiknya itu diterima baik oleh keluarga saya. Apalagi dia datang baik-baik.

Suami memang tak pernah menjanjikan istana maupun kereta kencana, tapi janjinya kepada orang tua  saya adalah membahagiakan saya. Bahagia dengan versi kami.

    • Ya gimana enggak bahagia, sebagai seorang isteri dan seorang ibu, saya seolah tak punya keterbatasan dalam mencapai apa yang saya mau. Dibolehin kerja, dibolehin ngumpul sama teman, dibolehin ini itu dan selalu didukung itu rasanya bahagiaaaa banget. Yups, kebebasan adalah wujud kebahagiaan nyata yang selalu suami berikan pada saya.
    • Ya gimana enggak bahagia, suami itu bukan tipekal lelaki pelit. Dari gaji seumprit sampai nyari pekerjaan yang gajinya bisa masuk diakal. Semua demi apa coba kalau bukan demi bisa nraktir isterinya, ngajak isterinya nonton, ngajak keluarga jalan-jalan. Jadi, foya-foya enggak harus nunggu kayalah. Hahhaaa… LOL

  • Ya gimana enggak bahagia, suami selalu ngasih waktu luangnya ke keluarga. misal nih weekend, suami libur kerja dan maunya kan istirahat, tapi saya ada acara blogger, dianterin, ditungguin. Itu semua bahagianya kelewat-lewat loh.

Intinya sich gini, bahagia itu enggak bisa diukur sama materi. Soal suami kaya apa enggak, hidup itu berputar. Ibarat roaler coaster yang naik dan turun. Orang hanya mampu menilai apa yang terlihat tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Kita enggak tahu juga, pasangan yang ke mana-mana naik mobil belum tentu lebih bahagia daripada pasangan yang ke mana-mana naik becak, kan? Kita mungkin enggak tahu, pasangan yang ke mana-mana naik mobil itu jarang ketemu, atau punya simpenan, atau utangnya banyak. Sementara yang ke mana-mana naik becak malah adem ayem tentrem. Kitaaa enggak tahu kan?

Dan kita juga enggak tahu juga sama masa depan seseorang. Bisa jadi orang enggak punya yang sekarang kita hina malah suatu saat nanti jadi orang kaya yang menolong kita. Iya, kan? Rejeki orang, masa depan orang, siapa sich yang tahu? Wallahualam…

Kebahagiaan setiap individu itu berbeda, tsay. Tergantung di mana letak bersyukurnya kita. Jadi, suami yang Tuhan berikan ke kita itu adalah sosok suami yang benar-benar kita butuhkan. Kaya tidaknya itu semua milik Allah. Suami kaya apa enggak itu bukan jaminan bahagia atau cerahnya masa depan. Karena pemilik rejeki itu Allah. Dia yang memberikan dan Dia pula yang akan mengambilnya.

#SudahkahKitaBersyukurHariIni?

5 thoughts on “KALAU NYARI SUAMI ITU MBOK YANG KAYA… (1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s